Selasa, 17 Juni 2008

Kesaksian Seorang Seinendan Zaman Jepang

Wawancara Dengan Bapak Muh Mundori seorang mantan Seinendan di zaman Jepang. Wawancara bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi masyarakat Boyolali pada masa pendudukan Jepang

Jum’at tujuh Desember 2007, sekitar Pukul 19.15, saya yang bernama Muhammad Akbar Wijaya Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, Tahun Angkatan 2004. Telah mewawancarai seorang mantan Seinendan di zaman Jepang yang bernama Bapak Muh Mundori. Wawancara bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi masyarakat Boyolali pada masa pendudukan Jepang. Berikut hasil petikan wawancara saya dengan beliau:


Ya.ya mau tanya apa? Oh iya, nama dan tempat tanggal lahir Bapak kapan?

saya tanggal lahirnya mestinya yang betul, empat april tahun 1937 (suara dua orang cucu pengkisah..nana dan salsabila)

Owh..Ya jadi, Ya aa..waktu Jepang datang saya mungkin baru umur lima tahun, emm.. sekitar umur lima tahun

Kalo nama lengkapnya Pak?

Muh mundori

Muhammad ya?

Muh..muh.muh.muh(menegaskan) Muh..aja! Muh.. mundori, ya

Dulu pendidikannya apa tuh Pak, waktu zaman Jepang?

Zaman Jepang, saya belum anu, waktu Jepang datang, saya belum sekolah owhh.. Tapi, setelah Jepang datang, Iya saya lalu, anu apa itu, sekolah SR, waktu zaman Jepang Owhh.. kemudian saya ikut menjadi Seinendan, Apa tuh Pak? Seinendan itu kalau sekarang, pramuka itu. Owhh pramuka. Ya dilatih anu baris-berbaris dan sebagainya itu

Selain baris berbaris apa aja tuh Pak pramuka anu... pekerjaannya?

dilatih itu, perang-perangan itu, perang-perangan...Ya tapi pake pring, Pring ya ada pring ada..ya bedil, tapi dari kayu itu.

Dulu dimana tuh Pak, di Boyolali?

Di Boyolali, iya

Dulu masyarakat gimana tuh Pak reaksinya, waktu pas Jepang dateng? Pertama kali senang, he eh.. sebab, ingin anu... apa itu mengusir penjajah Belanda itu. pertama kali, pertama kali! (suara kendaraan bermotor) tapi setelah tahu ternyata Jepang itu anu.. Jepang itu.. apa itu.. rakus! Itu... jadi begini, Jepang itu... orang-orang yang laki-laki yang sud.. pemem..(pengkisah agak gugup) mempunyai bakat itu diromusha, diromusha tuh dikerja Paksa Untuk apa tuh Pak?.. termasuk ayah saya. Untuk apa tuh Pak?!... anu...maksudnya untuk, anu apa itu membuat pertahanan, pertahanan anu apa itu membuat gua-gua, membuat...oh..dan membuat sebagainya Ada diantaranya dikirim ke Kalimantan atau kirim ke..anu Birma. Birma tuh Pak? Iya!Oh.. gitu, Lalu yang, lha jeleknya Jepang itu, romusha itu setelah anu, apa itu namanya eeee...setelah pekerjaanya selesai..Ya itu biasanya or..orang yang kerja dibunuh!Oh..

Mereka nggak dibayar tuh Pak selama kerja?

Lha ndak, hanya diberi makan saja kurang, Owh gitu.. diberi makan saja kurang. Jadi, lha umpanya sekarang gini, ini ceriteranya ya, anuu kaloo disuruh anu, apa itu ada drum itu disuruh... drum kan isinya berat yaya lalu disuruh anu.. didorong gitu ya, itu kalo nggak kuat malah dihajar!Oh.. nah coba kalau gak kuat dihajar. anu..biasanya di.. anu.. apa itu diumpat-umpat sama anu (maksudnya diumpat Jepang) dengan kata-kata bakero! Bakero? Bakero..heheehe (terkekeh-kekeh) Artinya apa Pak? Bakero itu ya anjing hehee (tertawa lepas)..wis pokonya anu..ya itu.

Oh iya Pak, ini saya mau tanya ee..waktu.. jadi romusha itu ada keriteria gak Pak dari orang Jepang itu? Usia atau jenis kelamin gitu..

Anu, itu.. anu, ya laki-laki yang punya keahlian, umpanya tukang kayu, tukang batu. Lha itu, itu diambili. jadi lewatnya lurah.ehm..jadi lewatnya lurah

Kalo Bapak, orang tua Bapak?

orang tua saya tukang kayu Oh tukang kayu? Iya. Tapi, karena..gini sudah didaftar sebagai romusha, lalu dibawa ke Solo. Jadi Boyolalikan pusatnya karesidennya Solo, lalu di Solo ketemu anu apa itu... pernah kakaknya, kakaknya juga ngurusi anu itu, ngurusi romusha itu, lha, karena ngurusi romusha, maka kalo nanti diangkatkan jadi romusha yang dikirim keluar negeri itu...ya.ya. itu kan mesti mati. Owh..ndak ada yang kembali, ndak ada...balik lagi ya biasanya mati. Lha itu, lalu di..dipekerjakan sebagai anu, mengantar sapi-sapi. Ehm.. Jadi Jepang itu gini, membawa sapi yang masih kurus-kurus itu ke daerah Boyolali ke gunung merapi merbabu itu. Gunung merapi itu.. lalu disana diserahkan penduduk suruh anu, suruh apa itu namanya eee.. ngopeni anu dadi memberi makan itu gitu lho. Setelah gemuk kemudian dikirim ke Solo, lalu ayah saya itu anu dikasih satu gerbong..gerbong anu itu lho, gerbong sepur itu lho. lha itu, diberi tanggung jawab gerbong ini untuk ngangkut sapi-sapi itu ke bandung, ke bogor ke Jakarta gitu.

Oh iya Pak ee Sikap tentara Jepang ya, kepada para wanita atau gadis-gadis di tempat Bapak pada masa itu seperti apa Pak?

Lha ini menurut ceritera (maksudnya cerita) itu gini, jadi lewat camatnya anuu gadis-gadis yang cantik-cantik itu, ya, gadis-gadis yang cantik-cantik, itu anu lewat lurahnya supaya dikumpulkan, akan disekolahkan ke Jepang. Bilangnya Bilangnya akan disekolahkan ke Jepang lalu diajari baris-berbaris dan sebagainya itu. Setelah itu diangkatkan betul, tapi menurut keterangan ternyata di..tidak dibawa ke Jepang tapi ke pulau-pulau yang ada markasnya Jepang. Lha disana ya di anu pokoknya untuk pemuas... Wha! itu lho yang jeleknya di situ. Dan gini, umpamanya orang Indonesia itu melewati markasnya Jepang itu harus menghormat, seikirei! Seikirei itu menghormat, menghormatnya tidak gini (pengkisah mempraktekan cara menghormat orang Indonesia kepada merah putih dengan mengangkat tangan kanan setinggi pelipis mata dan cara menghormat orang Indonesia kepada Jepang dengan membungkukkan badan beberapa saat) tapi membungkuk gitu. Itu kalo tidak, itu anu lalu ditangkap di tempat itu juga, Iya.. ditangkep pakaiannya dilepasi bajunya, kemudian disuruh melihat matahari. Ehm nah itu anu, kemudian waktu saya sekolah ya, lha tadi nganu itu anu romusha-romusha itu yang di daerah dekat Boyolali sana, itu saya pernah ketemu sama anu jadi tentara heiho, cerita itu yang ada Kalimantan itu. Gimana Pak? Di Kalimantan itu gini...(suara mobil lewat) Jadi diamnya tidak di anu tapi di guo-guo (maksudnya gua-gua) gitu lho pak, itu kalo sudah dipalang gitu berarti heihonya dibunuh. (suara kendaraan lewat) Nah itu ada seorang heiho, yang dulu tempatnya anu, saya ceritanya itu di peleburan itu lho sebelum di pakai undip itu lho, nah itu. Itu anu bisa meloloskan diri, anu meloloskan diri, ternyata betul, jadi kalo sudah anu itu diberondong anu di apa itu? dibunuh! maksudnya sudah pokoknya supaya tidak mengetahui anu itu. Itu kemudian mereka bisa lari, anu... (Suara kendaraan dan Suara dua orang cucu perempuan pengkisah) kan anu sana Kalimantan timur atau anu itu yang anu itu lho, ada minyak anu itu, tarakan!(Suara kawan pewawancara bernama Ariono) Tarakan itu, lha itu bisa lari kemudian anu ketemu sama orang Dayak sana, kepala sukunya itu. Kemudian dia bisa ketemu sama tentara asing, kemudian dia bisa ke Singapur jadi tentara asing.

Oh iya Pak ini, cara masuk jadi Seinendan itu seperti apa Pak?

Itu.. ndak Pakai kriteria anu, pokonya bisa anu, umurnya sekian, itu kan diluar sekolah itu Seinendan itu. Lha lalu diajari baris gitu saja, diajari baris gitu saja waktu itu saya belum sekolah sejak jadi Seinendan. Oh.. Jadi ikut kakak, anu teman-teman sekakak saya yang sudah sekolah kelas satu, kelas satu itu, itu saya jadi Seinendan tapi akhirnya saya juga sekolah. sekolah juga.. ya! Sekolah Rakyat tu Pak ya? sekolah SR! SR ehm.. nah itu. lha jadi para PETA ini, itu disuruh anu apa itu, menanam itu kewajiban itu kapas. Lha itu kalau ngambil kapas tidak boleh nganu apa itu namanya tidak boleh berdiri, harus duduk kalau ngambil kapasnya itu. Lha kapasnya itu dikumpulkan oleh Jepang mungkin untuk pakaian atau gimana itu...untuk anu itu. Lha kalo sampai menyalahi lebih-lebih kalo anu apa itu...mencuri kapas itu, itu ada polisinya namanya Kempetai

Apa hukumannya Pak?

Wah dihajar udah hua.haha, babak belur kalo sampean ini..(tertawa terkekeh-kekeh)

Oh iya Pak, ee Aku mau tanya itu.. kondisi tersulit ya, yang Bapak rasakan ya pada masa pemerintahan Jepang itu dalam kondisi seperti apa?

Anu sulit makanan. jadi makanan (suara cucu pengkisah) harus diserah.. anu jadi padi-padi itu diserahkan anu..ee.. apa itu, Jepang. Kemudian gini saya tau bude saya itu kan punya emas-emasan itu. Itu diumumkan kalo anu kalo bisa menyerahkan mas-masan itu diberi tanda penghargaan, surat itu lho! hanya Pake surat hehehe kan ngapusi (sambil terkekeh-kekeh) Iya bener. Dan semua anu, semua yang berupa besi...itu diangkuti Jepang semua, jadi pagar besi ndak boleh, diambili, lalu mobil nggak boleh, punya radio nggak boleh, kalo ketahuan punya radio itu bisa di Kempetai tadi, dihajar anu.. ditangkep gitu. Lalu..anu meskipun itu anu, lha makam-makam tionghoa, Belanda, itu kan besi semua, itu diambili semua, diangkuti semua.

Itu dibawa kemana Pak?

Biasanya dibawa ke Semarang. Semarang nanti dibawa kemana nggak tahu, dikapalkan kemana. termasuk anu.. lokomotif-lokomotif anu itu, bekas kepunyaan Belanda itu diambili, diangkuti truk.

Oh iya ee Pak apa, masyarakat pada waktu itu ya, kan sulit makan tuh, gimana tuh cara masyarakat bertahan hidup tuh?

Anu, ya wis pokoke seadanya, ya kalo keluarga saya Pakaian itu ndak ada Pak. Jadi pakaian ndak ada, kemudian anu.. sekolahan itu ada gini, pernah ada koperasi itu, menjualnya itu celana bagor itu. Jadi orang banyak yang pake celana bagor, pakaiannya...di daerah Boyolali ada yang bisa merajut serat nanas itu, untuk pakaian. Jadi lha..karena tempat saya, ibu saya itu punya, rumah ini kan ada anunya lawang gini ini ada anu apa itu gordennya itu gorden ini-ini(tangan pengkisah sambil menunjuk-nunjuk gorden) lha ini dipakai untuk pakaian, dijahit untuk.. jadi saya sekolah itu pakai pakaian bekas ini, korden-korden itu. Nah itu..

Oh iya Pak Markas Jepang yang di Boyolali itu di daerah mana saja Pak?

Anu di Tampir, di Tampir. lha itu ternyata satu batalyon, ndak tanggung-tanggung. Mungkin dulu ada anu...perlengakapannya mungkin dipendem disana, anu ada tank-tank barang itu. Tampir itu daerah kota? Tampir itu daerah anu, Solo Boyolali ke barat sedikit, arah ke Gunung Merapi..Owh arah Gunung Merapi. Arah ke Gunung Merapi, Tampir!

Oh iya Pak, ini kalo Seinendan itu bertugas di front pertempuran nggak?

Ndak hanya anu apa itu pokoknya dilatih perang, tapi tidak anu. Lha kalo yang tugas pertempuran itu namanya heiho,Ohh...heiho1 itu tentara anu tentara Jepang tapi orang Indonesia... Heiho.

Dipersenjartai Pak mereka?

Dipersenjatai, dan itu.. tempatnya pusat latihan di Solotigo (maksudnya salatiga). Solotigo itu kan ada anu ada brigif apa itu..anu itu.. 441 atau 411 atau gimana itu.. nah itu anu, saya kemarin liat kok 411 (ekspresi pengkisah, sambil mengingat-ngingat), itu tempat anu, tempat melatih anu tentara jadi dari.. dari kroco sampai perwira. Sebab mas saya ada yang jadi perwira situ, anu dilatih jadi perwira. Lha itu yang sekolah, jadi tidak sekolah pun bisa jadi tentara Jepang itu, heiho!. Lain sama PETA2, PETA itu sendiri Oh...? nah ada PETA, PETA itu pembela tanah air, lha itu tidak dipersenjatai.. tapi kalo yang heiho itu dipersenjatai

Tugasnya tapi sama?

Tugasnya yo perang sama anu..Belanda? belan.. anu tidak! waktu dulu kan Belanda sudah lari semua. lha setelah Belanda dateng itu heiho-heiho dilepas, dilepas. Nah lalu ikut anu itu... anu apa itu? jadi ikut jadi tentara Indonesia itu.

Oh iya Pak, ee gimana oke bagaimana tuh Pak cara masyarakat melakukan perlawanan pada pemerintahan Jepang kan kondisi sulit akhirnya masyarakat.. perang-perang itu seperti apa Pak di sana?

Lha..anu! dengan Jepang, waktu Jepang masih berkuasa itu ndak berani, jadi anu secara sembunyi-sembunyi. Anu, pokoknya perlawanan sulit itu ndak berani. Sebab, anu.. makanan nggak ada kemudian anu untuk menggalang itu sulit. Tapi setelah begitu ada berita proklamasi itu, (suara mesin kendaraan lewat) itu terutama saya yang saya lihat itu dari bekas heiho-heiho itu. Wah itu berani nyetopi Jepang..anu...truk-truk Jepang itu. Jadi anu Pak, saya melihat sendiri itu, pas truknya itu digeledah sama tentara Indonesia tapi bekas orang heiho, orangnya mungkin masih hidup itu, itu namanya mas parman itu, saya pas liat anu.. lha itu anu... itu tahun 45 itu jadi sudah..sudah..sudah proklamasi tapi Jepang masih berkuasa disitu di Tampir itu. Itu persenjataannya lengkap itu, kalo itu di Tampir itu sampai berontak seperti Semarang itu.. lha itu hancur Solo itu! Lha, orang sana anu artinya itu tidak keras seperti Semarang itu, jadi sana, di anu... malahan sebagian tentara Indonesia yang di daerah Boyolali itu dapat senjata dari tentara Jepang itu. Dan Jepang mau pergi itu yang ngangkut anu, ngangkut tentara Indonesia. Bukan make.. kendaraannya apa coba? Lori! lori sana itu, ada lori anu jadi..chek kalo anu itu anu apa itu ndase lori anu apa jenenge? kalo sini anu... Pengangkut tebu ya? Pengangkut tebu! Lha itu, itu diangkut sama itu ke Jogja, Lha setelah di Jogja dimana diangkut kemana saya anu... beritanya begitu diangkut ke Jogja.

Oh iya Pak ee.. Seinendan itu punya seragam gak Pak?

Anu...seingat saya itu ya wis pakaiannya sendiri, ndak ada. Wong Pakaian saja sulit (pengkisah tertawa terkekeh-kekeh). Oh...gak dikasih seragam berarti Pak? Ya ndak, hehheheheh (masih terkekeh-kekeh) wis pokoknya pakaiannya sendiri, tapi anu..ee Dulu itu seneng, jadi-jadi Seinendan itu seneng, karena, belum tahu kalo ternyata diapusi sama Jepang itu ndak..ndak anu

Batasan umurnya gak ada Pak, untuk jadi Seinendan?

Anu ya, ya..pokoknya cukup bisa anu gitu, bisa berbaris-baris ya diterima gitu saja. Tidak minimum sekian, pokoknya itu yang masih sekolah lah. Lha kalo yang untuk pertahanan itu namanya keibodan, keibodan3 itu kalo sekarang hansip. nah ada hansip, sekarang kan ada hansip, ada pramuka. Lha pramuka itu yang Seinendan itu, lalu yang hansip itu keibodan itu. kalo diatasnya keibodan apa Pak Keliatannya ndak ada, lha itu tadi anu itu tadi heiho heiho anu ndak.. yang PETA itu tadi, PETA itu.

Berarti kalo keibodan itu, di masyarakat Pak ya?

Masyarakat.. ya.. masyarakat, menjaga keamanan kelurahan lah, perumahan kampung, anu dan sebagainya, tapi yang mengendalikan lurah.

Oh iya Pak, dengar-dengar dari ceritakan masyrakat itu berperang melawan penjajah itu dengan bambu runcing ya, itu apa benar seperti itu? memang nganu, lha itu yang anu, yang di daerah artinya di semarang sini, sana yo bawa bambu runcing, tapi wong perang sama belanda itu... kalo perang sama Jepang disana gak ada. Di Boyolali sekitarnya ndak ada, Sebab Jepang anu.. bisa, artinya itu bisa di..ajak berunding gitu, jadi minta senjata dikasih. Jadi tidak sampe secara kekerasan gitu, itu di daerah Boyolali.

Oh iya Pak, itukan setelah proklamasi Pak ya, masyarakatkan di Boyolali itukan masih ada beberapa tentara Jepang gitu ya, lha itu masyarakat gimana tuh Pak reaksinya? Lha ya itu, karena anu apa itu, bisa saling pengertian, sana tidak anu menyerang, kita tidak menyerang, lalu kita...kan perlunya kita kan buka perang sama Jepang. Kita itu perang sama Belanda.

Masyarakat gak dendam tuh Pak?

Eh..ya..kelihatannya ndak, anu ndak dendam asal anu apa itu, lha terkecuali kalo di Semarang ini, lain. Semarang sini kan Jepangnya membunuhi anu, membunuhi apa itu namanya?..masyarakat masyarakat, anu yang dianggap memusuhi, tapi kalau sanakan ndak, malahan sana mau memberikan senjatanya itu keduanya. Ketika Jepang itu anu, dari Tampir Boyolali itu diserahkan anu tentara sekutu, kan tentara sekutu bukan Belanda itu, tentara belanda itukan dompleng (ikut) tentara sekutu itu. Lha itu..kan dibawa ke Jogja, lha itu yang ngurusi membawa itu, tentara Indonesia. Di..dinaikkan, anu itu tadi apa namanya?..lori Lori saja mau kok gimana, hahaha Ya toh (tertawa). Jadi sana seandainya sana itu anu apa itu keras seperti sini (maksudnya semarang), anu orang, orang-orang apa itu Indonesia itu keras, sana berontak malahan hancur saya kira, sana persenjataannya lengkap sebab pasukan infanteri. Lha..di Tampir itu anu selama anu itu diisolasi, diisolir, jadi dijaga. Anu setelah merdeka itu lho. Dijaga, kemudian dia menanam anu, menanam sayuran menanam apa untuk makannya dia.

Oh iya Pak, ee.. ada perubahan gak Pak setelah penyerahan kekuasan Jepang ke Indonesia Perubahan gimana maksudnya? Ya perubahan keadaan gitu Pak?

Ow..Ya berubah sekali, Seperti apa tuh Pak? Perubahannya artinya kita kan bebas, bebas kemudian anu menyusun kekuatan itu tadi Jepang-Jepang yang anu itu berkeliaran ndak boleh. Anu...saya melihat sendiri itu truk-truk yang dari Solo mau ke daerah itu tadi..anu markasnya Jepang itu, itu ternyata pas saya liat itu membawa anu sarung-sarung itu, membawa sarung. Pas saya liat lho. Masyarakat itu Pak? Mmmbukan Jepangnya itu lho tentara anu itu lho, truk-truknya Jepang itu lho. Kira-kira untuk apa itu? ya? Kira-kira untuk apa? Lha mungkin ditampung toh, jadi anu apa itu kekayaan apa Jepangkan sering anu kekayaan itu ditampung. Umpamanya anu besi-besi, pokoknya anu...umpamanya saya, umpamanya, punya ini, apa itu?...pagar besi, ndak boleh diminta Jepang. Sampe kuburan itu lho, kuburan itukan ada...anunya besi-besi gitu, tionghuakan mesti Pake besi semua itu, itu diambili semua, ndak boleh dan ditampung mungkin ya mau dijual atau diapa untuk bikin senjata atau gimana itu.

Soal makanan gimana Pak setelah proklamasi?

Lha, setelah proklamasi rodo anu, artinya itu makanan..makanankan tidak dimintai Jepang, jadi padi-padi kan bisa dimakan sendiri. Dulu itu sampai anu.. sulit! makanan sulit. Dimintain ama Jepang Pak? Anu jadi diperdagangangkan ndak ada anu, umpamanya ada beras mahal. Sampe orang itu makan seadanya, jadi sampai daun-daunan dimakan. Jadi umpamanya pisang, anu apa itu pohon pisang itu, bonggolnya pisang sampai dimakan. Ampe sekarang juga ya, Ya..dan anak sekolah diperintahkan untuk mencari anu apa itu namanya?...iles-iles, iles-iles itu...jadi, seakan anu apa itu...harus tiap-tiap anak sekolah harus mendapatkan iles-iles. Iles-iles itu bisa untuk bahan makanan atau gimana atau bikin anu apa itu perekat saya kurang tahu. Itu...seperti anu jadi...apa itu namanya...buah tapi...yang ditanam itu lho, jadi seperti anu...ketela barang itu, tapi dia ada lumbunya itu, daun lumbu, seperti daun lumbu tapi lain. Bukan lumbunya itu, kalo lumbu kan daunnya bisa dimasak dan sebagai, kalo iles-iles itu anu, seperti beracun gitu. Tapi buahnya itu anu buahnya itu mungkin bisa digunakan anu oleh Jepang. Wah itu anak sekolah harus mendapatkan itu, jadi pada pergi ke desa-desa cari itu, iles-iles itu, Oh ya Pak termasuk saya.

Oh iya Pak, waktu zaman Jepang itu Boyolali sebagai apa Pak ya..kabupaten apa...? Kabupaten Bukan kawedanan ya? Bukan, kabupaten

Waktu itu kepala bupatinya siapa Pak? Waduh saya ndak begitu anu..ndak begitu anu..

Kalo Tampir masuk kecamatan mana? Tampir itu masuk kecamatan Cepogo. Cepogo iya.

Terus Pak, Setelah proklamasi itu Bapak sebagai apa tuh Pak kegiatan Bapak aktivitas Bapak? Saya anu masih sekolah, sekolah SR itu tadi, meneruskan sekolah lagi ya anu…mulai Jepang ya sekolah, tapi..ya setelah anu yo sekolah lagi..ya

Ada perubahan tuh Pak pendidikannya Pak, kan kalo yang zaman Jepang itukan semua suasana serba Jepang, nah saat proklamasi itu masih seperti itu gak?

Iya kalo pagi itu disuruh anu, jadi kalo mau masuk sekolah itu dibariskan, kemudian harus anu apa itu namanya seikirei, seikirei itu apa ya...menghormat! Menghormat ke Tenno Heikka. Jadi, jadi umpanya anu itu madepnya itu kepojok anu sana, timur anu timur utara atau atunya timur utara apa?...timur laut. Kalo sana kan tenggara, itu timur laut seikirei. Setelah itu...selama beberapa detik lha ya anu beberapa detik saja anu, diabani itu.

Disuruh nyanyi Jepang gak? Gimana? Disuruh nyanyi Jepang gak?! (pewawancara menegaskan pertanyaannya) Oh iya bisa nyanyi? Masih hapalkan? nggak hapal tapi saya punya anunya apa itu namanya? Teks teksnya punya...pas anu ada..ya sedikit-sedikit anu apa itu...Coba dong Pak nyanyiin sedikit

(lama berpikir) anu ……apa ya......anu...hapalnya.. anu..se.se...tanseno saeki hatsurat suko di waowao daru o o yasima o o an (lagu Jepang, kurang jelas) itu jadi Jepang itu anu sekali opo itu..benci sekali sama Cina. Judul lagunya apa? Judul lagunya apa ya? Ya ada saya simpen itu

Tapi Setelah proklamasi itu apa pendidikan yang diterapkan oleh Jepang kaya baris berbaris terus hormat pada Tenno Heikka...?

Ndak ada! sudah ndak ada, ada pandu. Apa itu? kalo dulu itu pandu rakyat pandu rakyat itu yang umum, jadi tidak ikut organisasi apa-apa. Sebab ada pandu HW ada anu pandu apa itu namanya...jadi setiap golopngan itu membuat pandu sendiri-sendiri. Lha itu kalo di Boyolali yang besar dulu itu namanya pandu rakyat. Pandu rakyat itu masuk kesekola-sekolah itu dan saya juga ikut jadi pandu

Oh iya Pak nih terakhir nih Bapak kan mengalami masa Jepang ya ada pesan buat generasi muda gitu Pak ya mengenai apa ajalah yang Bapak harapkan gitu?

Nah...anu apa itu, untuk generasi muda ini, memang gini Jepang itu pendidikannya keras, jadi keras.. dan anu apa itu, dan usahanya luar biasa. Lha itu yang harus dicontoh!


Biodata Pewawancara

Nama Lengkap : Muhammad Akbar Wijaya

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 23-07-1986

Status : Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro

Semarang

Tujuan wawancara : Mendapatkan informasi mengenai kondisi masyarakat

Boyolali pada masa pendudukan Jepang

Biodata Pengkisah

Nama lengkap : Muh Mundori

Tempat tanggal lahir : Boyolali 4-04-1937

Tempat tinggal : Jln. Citarum tengah. No. 04 Semarang Timur

Status pekerjaan sekarang : Ketua paguyuban veteran DWIKORA dan berprofesi

sebagai pengawas Bus Budi Jaya Semarang

Profesi di zaman Jepang : Seinendan atau Pramuka Jepang

Lokasi wawancara : Di ruang tamu Pengkisah. Jln. Citarum tengah. No. 04

Semarang Timur

Waktu wawancara : Hari Jum’at 07-12-2007. Pukul. 19.15

Durasi wawancara : 31 menit 34 detik

Kendala saat wawancara : Letak rumah pengkisah yang tepat berada di depan jalan

raya, membuat suara rekaman agak bising sedikit.


Kejelasan informasi : Baik


Beberapa suara yang terekam dan keterangan dalam transkrip


Suara Pengkisah : Berfont Times New Roman tegak lurus


Suara pertanyaan Pewawancara : Berfont Times New Roman bercetak tebal dan

miring


Suara spontanitas pewawancara : Berfont Times New Roman bercetak tebal dan

tegak lurus


Suara Rekan Pengkisah (Ariono) : Berfont comic sans bercetak tebal, tegak lurus




Daftar istilah


Seinendan : Semacam Pramuka di zaman Jepang

Romusha : Pekerja Paksa Zaman Jepang

Bakero : Umpatan atau makian orang Jepang, artinya Anjing

Seikirei : Perintah untuk memberi hormat kepada bendera Jepang dan

Tenno Heikka

Tenno Heikka : Kaisar Jepang

Kempetai : Polisi keamanan Jepang

Heiho : Orang Indonesia yang direkrut menjadi tentara Jepang dan

dipersenjatai

PETA : Akronim dari Pembela Tanah Air, bertugas membantu Heiho.

tidak dipersenjatai

Keibodan : Penjaga keamanan kampung di zaman Jepang. Fungsinya sama

seperti Hansip di zaman sekarang

Iles-iles : Sejenis tanaman umbi yang bisa dimakan dan dibuat perekat

1 Orang Indonesia yang direkrut menjadi tentara Jepang

2 pembela tanah air yang tidak dipersenjatai bertugas berperang membantu para heiho

3 keamanan kampung zaman jepang fungsinya sama dengan hansip di zaman sekarang

Tidak ada komentar: